Pasar Baterai Lithium 2025: Harga Anjlok, Kapasitas Melonjak, dan Pergeseran Menuju Penyimpanan Energi

Energi Hijau untuk Masa Depan Rendah Karbon
Klik untuk melewati

BloombergNEF melaporkan dalam Battery Price Survey edisi Desember 2024 bahwa harga rata-rata paket baterai lithium-ion turun menjadi $115 per kWh — penurunan 20% dibandingkan tahun sebelumnya. Angka ini merupakan level terendah sejak survei pertama kali dilakukan pada 2010, ketika harga masih berada di kisaran $1.200 per kWh. Penurunan ini didorong oleh kelebihan kapasitas produksi di China, penurunan biaya bahan baku litium karbonat, dan efisiensi manufaktur yang terus membaik.
Bagi pasar Indonesia, tren ini membuka peluang signifikan. Dengan harga baterai yang semakin terjangkau, sistem solar panels yang dipasangkan dengan lithium battery storage kini memiliki payback period lebih pendek. Perhitungan internal DLXN menunjukkan bahwa untuk pelanggan komersial dengan tarif listrik di atas Rp1.500/kWh, investasi sistem penyimpanan energi kini kembali modal dalam 5–7 tahun — dibandingkan 8–10 tahun pada 2022.
International Energy Agency (IEA) dalam laporan Global EV Outlook 2024 mencatat kapasitas produksi baterai lithium-ion global mencapai 1.560 GWh (1,56 TWh) per tahun pada akhir 2023, dengan China menguasai sekitar 78% dari total kapasitas tersebut. Proyeksi IEA menunjukkan kapasitas akan melampaui 2,5 TWh pada 2025, didorong oleh ekspansi agresif pabrik-pabrik di China, Eropa, dan Amerika Utara.
Kelebihan pasokan ini menciptakan tekanan harga yang signifikan. S&P Global Commodity Insights memperkirakan utilisasi pabrik baterai global hanya mencapai 60% pada 2024, turun dari 75% pada 2022. Kondisi ini menguntungkan pembeli — termasuk pengembang proyek energi surya di Indonesia yang ingin menambahkan C&I energy storage untuk memangkas biaya listrik puncak.
Lithium karbonat di bursa komoditas China turun dari puncak $80.000 per ton pada November 2022 menjadi sekitar $13.000 per ton pada Januari 2025, menurut data Fastmarkets. Penurunan 84% ini mencerminkan melimpahnya pasokan dari tambang-tambang baru di Australia, Argentina, dan Chili, serta melambatnya pertumbuhan penjualan EV di beberapa pasar utama.
Data terbaru dari BloombergNEF menunjukkan bahwa segmen penyimpanan energi stasioner (stationary energy storage) tumbuh 45% pada 2024, melampaui pertumbuhan baterai kendaraan listrik yang berada di kisaran 28%. Total pemasangan sistem penyimpanan energi global mencapai 92 GW pada akhir 2024, dan proyeksi untuk 2025 menembus 120 GW.
Wood Mackenzie dalam laporan Global Energy Storage Outlook memperkirakan pasar penyimpanan energi akan menarik investasi sebesar $120 miliar pada 2025. Pendorong utama meliputi:
- Kebijakan dukungan: Amerika Serikat melalui Inflation Reduction Act memberikan kredit pajak 30-40% untuk proyek penyimpanan energi yang dipasangkan dengan pembangkit surya.
- Harga listrik yang tidak stabil: Di Eropa, harga listrik negatif terjadi lebih dari 300 jam pada 2024 (data ENTSO-E), mendorong utilitas dan pelanggan industri untuk memasang baterai sebagai buffer.
- Permintaan dari jaringan listrik: Australian Energy Market Operator (AEMO) mencatat bahwa baterai skala utilitas menyumbang 12% dari total kapasitas pembangkit baru yang terhubung ke jaringan pada 2024, naik dari hanya 3% pada 2021.
S&P Global Commodity Insights melaporkan bahwa Lithium Iron Phosphate (LFP) kini menguasai 48% pangsa pasar baterai untuk penyimpanan energi stasioner pada 2024, naik dari 35% pada 2022. Keunggulan LFP dalam hal keamanan termal, siklus hidup yang lebih panjang (6.000–10.000 siklus), dan biaya yang lebih rendah menjadikannya pilihan utama untuk aplikasi stasioner.
DLXN mengadopsi teknologi LFP pada seluruh lini solar technology dan sistem penyimpanan kami, termasuk residential ESS yang dirancang untuk rumah tangga dengan konsumsi listrik 900–2.200 kWh per bulan.
Meskipun lithium-ion tetap dominan, dua teknologi alternatif mulai menunjukkan komersialisasi. CATL, produsen baterai terbesar dunia, telah memulai produksi massal baterai sodium-ion pada 2024 dengan biaya produksi sekitar $50 per kWh — 40% lebih murah daripada LFP. Namun, kepadatan energi sodium-ion (sekitar 160 Wh/kg) masih jauh di bawah LFP (180–200 Wh/kg), sehingga aplikasinya terbatas pada penyimpanan stasioner dan kendaraan roda dua.
Sementara itu, Toyota dan QuantumScape menargetkan komersialisasi baterai solid-state pada 2027–2028, dengan kepadatan energi yang diklaim mencapai 400–500 Wh/kg. Namun, tantangan produksi massal dan biaya masih menjadi hambatan utama. National Renewable Energy Laboratory (NREL) memperkirakan baterai solid-state baru akan kompetitif secara biaya dengan lithium-ion pada 2030.
Indonesia memiliki posisi strategis sebagai pemilik cadangan nikel terbesar dunia — sekitar 21 juta ton metrik menurut data US Geological Survey. Pemerintah telah mendorong hilirisasi nikel untuk memproduksi prekursor baterai, dan kawasan industri Morowali serta Konawe kini menjadi pusat pengolahan nikel kelas baterai.
Namun, pasar domestik untuk sistem penyimpanan energi masih relatif kecil. Institute for Essential Services Reform (IESR) mencatat bahwa total kapasitas baterai terpasang di Indonesia baru mencapai sekitar 120 MWh pada akhir 2024, sebagian besar dari proyek percontohan PLN dan sistem off-grid di daerah terpencil.
PLN menargetkan penambahan 4,6 GW pembangkit surya pada 2030, dan penambahan kapasitas penyimpanan energi sebesar 200 MWh pada 2025 sebagai bagian dari program transisi energi. Dengan tren harga baterai yang terus turun, target ini semakin realistis.
Bagi pelaku industri dan pengembang properti, memanfaatkan momentum ini berarti berinvestasi pada solar solutions yang terintegrasi dengan penyimpanan baterai. Sistem solar sunflower tracker DLXN, misalnya, menggabungkan pelacakan matahari dua sumbu dengan penyimpanan energi terintegrasi, menghasilkan peningkatan hasil energi hingga 40% dibandingkan panel statis — angka yang kami verifikasi melalui uji lapangan di 5 lokasi berbeda di Indonesia.
Konsensus analis dari BloombergNEF, Wood Mackenzie, dan IEA menunjukkan bahwa harga baterai akan terus turun hingga mencapai $80–90 per kWh pada 2028. Pada level ini, sistem penyimpanan energi akan menjadi solusi yang ekonomis untuk hampir semua aplikasi — dari rumah tangga hingga industri berat.
Adopsi baterai di Indonesia diproyeksikan tumbuh signifikan, terutama setelah pemerintah menerbitkan Peraturan Presiden No. 112/2022 tentang percepatan pengembangan energi terbarukan yang mewajibkan integrasi penyimpanan energi untuk pembangkit surya skala besar.
---
Latest from DLXN Energy