PLTS Terapung vs PLTS Darat: Perbandingan Teknis, Biaya, dan Masa Depan Energi Surya Indonesia

Fenomena PLTS Terapung: Bukan Sekadar Tren
Indonesia mencatat sejarah energi terbarukan pada November 2023 ketika Presiden Joko Widodo meresmikan PLTS Terapung Cirata di Jawa Barat—terbesar di Asia Tenggara dengan kapasitas 192 MWp. Proyek yang dibangun di atas permukaan Waduk Cirata seluas 200 hektar ini menjadi bukti nyata bahwa teknologi floating photovoltaic (FPV) bukan sekadar wacana.
Namun pertanyaannya: apakah PLTS terapung benar-benar lebih unggul dibandingkan PLTS darat konvensional? Jawabannya tidak sesederhana yang dibayangkan. Keduanya memiliki keunggulan dan keterbatasan yang saling melengkapi, dan pilihan teknologi sangat bergantung pada kondisi geografis, ketersediaan lahan, serta tujuan investasi jangka panjang.
Efisiensi dan Kinerja: Efek Pendinginan Alami
Keunggulan Termal FPV
Salah satu temuan paling menarik datang dari National Renewable Energy Laboratory (NREL) yang mendokumentasikan bahwa panel surya terapung mengalami penurunan suhu permukaan 3–5°C dibandingkan panel darat. Efek pendinginan alami dari air ini meningkatkan efisiensi konversi energi sebesar 5–10% pada kondisi iklim tropis.
Data dari proyek Cirata menunjukkan bahwa faktor kapasitas PLTS terapung mencapai 14,8%, sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata PLTS darat di Indonesia yang berkisar 13,5–14% berdasarkan laporan IRENA Renewable Capacity Statistics 2024. Perbedaan ini mungkin tampak kecil, namun dalam skala 192 MW, selisih 1% setara dengan tambahan produksi listrik sekitar 16,8 GWh per tahun—cukup untuk melayani 4.200 rumah tangga.
Degradasi Panel yang Lebih Rendah
Penelitian dari Solar Energy Research Institute of Singapore (SERIS) menunjukkan bahwa tingkat degradasi panel terapung lebih rendah 0,1–0,3% per tahun dibandingkan panel darat. Jika panel darat mengalami degradasi rata-rata 0,5% per tahun, panel terapung hanya mengalami 0,2–0,4%. Dalam umur operasional 25 tahun, panel terapung dapat mempertahankan output hingga 90–92% dari kapasitas awal, sementara panel darat hanya 87–89%.
Untuk memahami bagaimana teknologi panel surya modern memanfaatkan karakteristik ini, DLXN Energy menyediakan panel surya berkualitas Tier-1 yang dirancang dengan koefisien suhu rendah hingga -0,34%/°C, menjadikannya optimal untuk aplikasi terapung maupun darat.
Biaya Investasi: Perbandingan Realistis
CAPEX dan LCOE
Data dari BloombergNEF (BNEF) Global PV Market Outlook 2024 menunjukkan bahwa biaya investasi (CAPEX) PLTS terapung saat ini berkisar $0,65–$0,85 per watt-peak (Wp), sementara PLTS darat berada di kisaran $0,45–$0,60 per Wp untuk skala utilitas. Selisih 30–40% ini terutama disebabkan oleh kebutuhan sistem mooring, ponton, dan kabel bawah air yang tahan korosi.
Namun, Levelized Cost of Energy (LCOE) kedua teknologi hampir setara. BNEF menghitung LCOE PLTS terapung di Asia Tenggara berkisar $45–$60/MWh, sementara PLTS darat $40–$55/MWh. Perbedaan hanya 10–15% karena efisiensi termal dan degradasi yang lebih rendah mengompensasi biaya awal yang lebih tinggi.
Biaya Lahan yang Tersembunyi
Di Indonesia, harga lahan untuk proyek PLTS darat di Pulau Jawa mencapai $8–$15 per meter persegi berdasarkan data Kementerian ATR/BPN. Untuk proyek 100 MW dengan kepadatan 2 hektar per MW, biaya lahan mencapai $1,6–$3 juta. PLTS terapung menghilangkan biaya ini sepenuhnya, namun menambahkan biaya pengadaan ponton sekitar $0,10–$0,15 per Wp berdasarkan data World Bank ESMAP Floating Solar Handbook.
Dampak Lingkungan dan Efisiensi Lahan
Mengurangi Evaporasi dan Menjaga Kualitas Air
PLTS terapung memberikan manfaat ganda yang sering terabaikan: mengurangi evaporasi waduk hingga 20–30% berdasarkan penelitian World Bank ESMAP. Untuk Waduk Cirata yang memiliki luas 6.200 hektar, pengurangan evaporasi ini menghemat sekitar 12 juta meter kubik air per tahun—setara dengan kebutuhan air minum 200.000 penduduk.
Selain itu, naungan dari panel terapung menghambat pertumbuhan alga dan mengurangi penguapan nutrisi, yang berdampak positif pada ekosistem perairan. Data dari proyek PLTS Terapung Cirata menunjukkan penurunan suhu permukaan air hingga 2°C di area yang dinaungi panel.
Efisiensi Penggunaan Lahan
PLTS darat membutuhkan lahan 1,5–2 hektar per MW, yang sering kali bersaing dengan kebutuhan pertanian atau konservasi. PLTS terapung memanfaatkan permukaan air yang tidak produktif, sehingga tidak ada konversi lahan yang diperlukan. Indonesia memiliki lebih dari 14.000 danau dan waduk dengan potensi FPV hingga 28 GW berdasarkan kajian Kementerian ESDM dan IESR.
Tantangan Teknis yang Perlu Dipertimbangkan
Korosi dan Kelembaban
Panel terapung menghadapi tantangan korosi akibat paparan air dan kelembaban tinggi. Konektor dan inverter harus memiliki rating IP67 atau lebih tinggi. Biaya pemeliharaan tahunan FPV diperkirakan 1,5–2% dari CAPEX, sedikit lebih tinggi dibandingkan PLTS darat yang hanya 1–1,5% berdasarkan data BNEF.
Interaksi dengan Ekosistem Air
Perlu kajian mendalam mengenai dampak FPV terhadap ekosistem perairan. Penelitian dari University of California menunjukkan bahwa penutupan permukaan air hingga 30% masih aman untuk ekosistem, namun di atas itu berpotensi mengganggu penetrasi cahaya dan oksigenasi air.
Kombinasi Solusi: Pendekatan Hibrida
Alih-alih memilih salah satu, pendekatan optimal di Indonesia adalah kombinasi keduanya. Untuk daerah dengan lahan terbatas seperti Jawa, FPV menjadi pilihan utama. Sementara untuk kawasan timur Indonesia dengan lahan luas, PLTS darat tetap lebih ekonomis.
DLXN Energy menawarkan solusi tenaga surya terintegrasi yang mencakup sistem hybrid FPV dan darat, dilengkapi penyimpanan energi lithium battery untuk memaksimalkan utilisasi. Untuk aplikasi komersial dan industri, sistem C&I energy storage kami memungkinkan pengelolaan beban puncak yang efisien.
Prospek Masa Depan
IRENA memproyeksikan kapasitas FPV global akan mencapai 60 GW pada 2030, meningkat dari 14 GW pada akhir 2023. Indonesia dengan target bauran EBT 23% pada 2025 membutuhkan tambahan kapasitas surya sekitar 3,2 GW, dan FPV menjadi salah satu kunci pencapaiannya.
Dengan teknologi yang terus berkembang dan biaya yang menurun—BNEF memproyeksikan CAPEX FPV akan turun 25% hingga 2027—perbedaan biaya dengan PLTS darat akan semakin mengecil. Keputusan investasi saat ini harus mempertimbangkan proyeksi ini, bukan hanya kondisi pasar saat ini.
Untuk memahami lebih dalam tentang teknologi panel yang mendukung kedua aplikasi ini, kunjungi halaman teknologi surya DLXN dan eksplorasi produk residential ESS untuk aplikasi skala rumah tangga.