Tren Pasar Floating Solar 2026: Pertumbuhan 29% per Tahun dan Tantangan Infrastruktur
Pertumbuhan Eksponensial yang Didorong Keterbatasan Lahan
Pasar floating solar bukan lagi proyek percontohan. Data dari Wood Mackenzie menunjukkan kapasitas terpasang global mencapai 15,2 GW pada akhir 2025, dengan proyeksi tambahan 8,4 GW sepanjang 2026. Angka ini tumbuh 29% year-on-year sejak 2023—jauh melampaui pertumbuhan PLTS darat yang hanya 12% pada periode yang sama.
Pendorong utamanya sederhana: keterbatasan lahan. Di negara padat penduduk seperti Jepang, Korea Selatan, dan Belanda, harga lahan untuk PLTS darat mencapai $0,5–1,2 juta per hektar di area industri. Sementara itu, badan air yang menganggur—waduk, danau buatan, kolam irigasi—menawarkan alternatif tanpa biaya pembebasan lahan.
International Renewable Energy Agency (IRENA) mencatat bahwa biaya investasi floating solar kini turun ke $0,45–0,65 per watt-peak (Wp) untuk proyek skala utilitas, hanya 8–12% lebih mahal dibanding PLTS darat. Namun keunggulan tambahan berupa pendinginan alami dari air meningkatkan efisiensi modul sebesar 5–15% dibanding sistem darat di iklim tropis, menurut pengukuran National Renewable Energy Laboratory (NREL).
Proyek Raksasa yang Menjadi Tolok Ukur
Dua proyek mendominasi lanskap global saat ini. Pertama, proyek Cirata di Jawa Barat, Indonesia—yang dikembangkan oleh Masdar dan PLN—memiliki kapasitas 192 MWp dan menjadi floating solar terbesar di Asia Tenggara sejak beroperasi penuh pada November 2023. Kedua, proyek Dezhou Dingzhuang di China dengan kapasitas 320 MW yang mulai beroperasi pada 2024.
Yang lebih ambisius sedang dalam tahap konstruksi: proyek Saemangeum di Korea Selatan ditargetkan mencapai 2,1 GW saat selesai pada 2028. Sementara itu, pemerintah India mengumumkan lelang untuk 1,5 GW floating solar di waduk-waduk negara bagian Gujarat dan Madhya Pradesh, menurut laporan BloombergNEF.
Pola yang menarik: mayoritas proyek skala besar (di atas 100 MW) berlokasi di waduk PLTA yang sudah ada. Ini bukan kebetulan—infrastruktur transmisi dan interkoneksi jaringan sudah tersedia, sehingga biaya koneksi turun hingga 40% dibanding membangun di lokasi terpencil.
Tantangan Teknis dan Lingkungan yang Masih Terbuka
Meski pertumbuhannya impresif, floating solar menghadapi tiga tantangan utama yang belum sepenuhnya terpecahkan.
Pertama, degradasi material di lingkungan air. Modul dan struktur apung harus bertahan terhadap kelembaban tinggi, gelombang, dan paparan UV yang dipantulkan air. Data dari DNV menunjukkan bahwa tingkat degradasi modul pada sistem floating mencapai 0,5–0,8% per tahun—lebih tinggi dari standar industri untuk PLTS darat yang sebesar 0,4–0,5%. Produsen kini berlomba mengembangkan modul dengan rating khusus "marine-grade" yang memiliki lapisan pelindung tambahan.
Kedua, interaksi dengan ekosistem perairan. Penelitian dari World Bank Group mengidentifikasi bahwa penutupan permukaan air di atas 50% dapat mengurangi oksigen terlarut dan mengganggu habitat ikan. Proyek di Indonesia dan Thailand kini menerapkan desain dengan celah antar-array sebesar 15–20% dari luas permukaan untuk menjaga sirkulasi air.
Ketiga, jangkar dan mooring di perairan dalam. Sebagian besar proyek saat ini dibangun di kedalaman 5–20 meter. Untuk waduk dengan kedalaman 50 meter lebih, sistem mooring menjadi kompleks dan biaya struktur apung meningkat hingga 25% dari total investasi, menurut analisis teknis dari Fraunhofer ISE.
Potensi Indonesia: 28 GW yang Belum Tergarap
Indonesia memiliki posisi unik dalam pasar floating solar. Kementerian ESDM memetakan potensi teknis sebesar 28,1 GW dari 5.900 danau dan waduk di seluruh negeri. Hingga saat ini, baru sekitar 0,7% dari potensi tersebut yang terpasang.
Faktor pendukungnya kuat: Indonesia memiliki salah satu potensi radiasi matahari tertinggi di dunia (3,2–5,1 kWh/m²/hari), dan banyak waduk PLTA yang sudah memiliki infrastruktur transmisi. Proyek Cirata membuktikan bahwa model ini layak secara komersial—dengan tarif listrik yang disepakati sebesar $0,058 per kWh, hanya sedikit di atas rata-rata tarif PLTS darat di Indonesia.
Namun ada hambatan regulasi yang sering diabaikan: status badan air yang digunakan. Banyak waduk dikelola oleh Perum Jasa Tirta atau pemerintah daerah dengan peruntukan utama irigasi dan air baku. Perjanjian penggunaan bersama antara pengembang PLTS dan pengelola waduk membutuhkan waktu 2–3 tahun hanya untuk proses perizinan, menurut pengalaman pengembang yang terlibat di proyek Cirata.
Proyeksi Hingga 2030
Dengan tren saat ini, Global Market Insights memproyeksikan pasar floating solar global mencapai 58 GW pada 2030, dengan Asia Tenggara menyumbang 18% dari total kapasitas baru. Harga modul yang terus turun—dari $0,25/Wp pada 2024 menjadi proyeksi $0,18/Wp pada 2027—akan semakin mempercepat adopsi.
Bagi pengembang dan investor yang ingin masuk ke pasar ini, pertanyaan kuncinya bukan lagi "apakah layak", melainkan "di mana dan bagaimana". Pemilihan lokasi yang tepat—mempertimbangkan kedalaman, kualitas air, dan jarak ke jaringan—adalah faktor penentu keberhasilan jangka panjang.
Langkah Praktis untuk Pengembang
Tim teknis DLXN Energy telah mengerjakan beberapa proyek floating solar di Asia Tenggara dan menemukan bahwa tiga faktor berikut paling menentukan keberhasilan proyek: (1) spesifikasi modul yang tahan terhadap lingkungan air, (2) desain struktur apung yang mempertimbangkan beban angin dan gelombang, dan (3) pemilihan inverter yang mampu menangani fluktuasi suhu yang lebih ekstrem di atas permukaan air.
Untuk kebutuhan sistem floating solar skala komersial, kami merekomendasikan modul solar panel dengan rating korosi tinggi dan inverter yang memiliki proteksi IP67 ke atas. Untuk sistem hybrid yang menggabungkan PLTS darat dan terapung, baterai litium dengan manajemen termal aktif menjadi komponen kunci.
Kami juga mengembangkan sistem solar sunflower yang dapat diadaptasi untuk aplikasi terapung di danau-danau kecil, serta eos carport untuk parkir area industri yang dekat dengan badan air. Untuk melihat studi kasus proyek yang pernah kami kerjakan, kunjungi halaman proyek kami.
Jika Anda sedang mengevaluasi potensi floating solar di lokasi Anda—baik itu waduk, kolam bekas tambang, atau danau buatan—tim teknis kami siap membantu melakukan studi kelayakan awal, termasuk analisis potensi energi, simulasi struktur apung, dan perkiraan biaya investasi secara detail.